tasbih

Ternyata Seperti Ini Lho Sejarah Tasbih

Berdzikir merupakan upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Selain dapat menenangkan hati, berdzikir juga bermanfaat untuk memberikan ketenangan pikiran. Itulah kenapa Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam sering menggunakan waktu luangnya untuk berdzikir. Karena hal tersebut merupakan salah satu bentuk ibadah dan bisa dilakukan sebanyak-banyaknya.

Sebagaimana yang tertulis dalam surah Al-Ahzab:41, yang berbunyi:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Hai orang-orang yang beriman, berdzikirlah (dengan menyebut nama) Allah, dzikir yang sebanyak-banyaknya. (QS. Al-Ahzab: 41)

Aisyah Radhiyallahu ‘anha berkata:

كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَذْكُرُ اللَّهَ عَلَى كُلِّ أَحْيَانِهِ

“Rasulullah selalu berdzikir kepada Allah dalam setiap kesempatannya”. (HR Bukhari dan Muslim).

Tentu saja dzikir yang dimaksud diatas tidak terbatas sempit pada kegiatan berdzikir yang dilakukan setelah shalat saja. Sejatinya, dzikir dibagi menjadi dua yaitu:

Dzikir Mutlaq

Merupakan dzikir yang tidak memilik kaitan dengan waktu, jumlah, tempat dan keadaan. Yang termasuk dalam Dzikir Mutlaq adalah semua perbuatan dan perkataan yang bisa mengingatkan seseorang kepada Allah SWT. Contohnya adalah: Tadarus Al Qur’an, tholabul ‘ilmi, dan lainnya. Seseorang bisa melakukan dzikir kapanpun danberapapun jumlahnya asal tidak bertentangan dengan syariat.

Dzikir muqayyad

Merupakan dzikir yang terikat dengan tempat. Contohnya adalah : dzikir di Arafah, di Multazam, tatkala masuk dan keluar masjid, saat berada di kamar mandi dan lain sebagainya. Atau terikat dengan jumlah, waktu dan tatacaranya. Oleh karenanya, dalam pelaksanaannya juga terikat dengan tata cara yang pernah dicontohkan oleh Rasulullah sallallahu ‘alaihi wa sallam.

Terkait Dzikir yang digolongkan dengan Jumlah, Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

مَنْ سَبَّحَ اللَّهَ فِي دُبُرِ كُلِّ صَلَاةٍ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَحَمِدَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ وَكَبَّرَ اللَّهَ ثَلَاثًا وَثَلَاثِينَ فَتْلِكَ تِسْعَةٌ وَتِسْعُونَ وَقَالَ تَمَامَ الْمِائَةِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ غُفِرَتْ خَطَايَاهُ وَإِنْ كَانَتْ مِثْلَ زَبَدِ الْبَحْرِ

“Barangsiapa yang mengucapkan “subhaanallah” setiap selesai shalat 33 kali, “alhamdulillah” 33 kali dan “Allahu Akbar” 33 kali; yang demikian berjumlah 99 dan menggenapkannya menjadi seratus dengan “La ilaha illallahu wahdahu la syarikalah, la hul mulku walahul hamdu wa huwa ‘la kulli syai-in qadir” (لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ), akan diampuni kesalahannya, sekalipun seperti buih lautan” (HR Muslim dari Abu Hurairah).

Lantas, bagaimana sih sejarah tasbih itu sendiri dan bagaimana cara Rasulullah menghitung dzikir?

 

Bentuk fisik dari tasbih telah dikenal dari masa sebelum Islam. Dipercayai bahwa benda tersebut terlebih dahulu digunakan oleh pendeta hindu. Juga pula Budha, mereka menggunakan tasbih sebagai salah satu ayat dalam ritualnya.

Orang-orang Katolik pun juga tidak berbeda. Mereka menggunakan lima puluh biji tasbih kecil yang dibagi empat dan diberi pemisah dengan biji tasbih besar dengan jumlah yang sama. Dari mereka, tasbih dijadikan sebagai kalung yang terdiri dari dua biji besar dan tiga biji kecil, kemudian ‘matanya’ dibuat dengan tanda salib. Mereka membaca puji Tuhan dengan biji tasbih yang besar, dan membaca pujian Maryamiyah dengan biji tasbih yang kecil.

Adapun yang pertama kali memperkenalkan alat tersebut ke dunia islam ialah kelompok-kelompok thariqat atau tasawuf; disebutkan oleh Sidi Gazalba bahwa alat tersebut digunakan sebagai hasil kombinasi pemikiran antara Islam dengan Manawi, Yahudi, Majusi, Hindum Kristen dan Budha serta mistik Pytagora. Hingga pada akhirnya banyak golongan yang menggunakannya.

Sejarahwan menyepakati bahwa masyarakat Jahiliyah pada zaman dahulu tidak mengenal apa itu istilah tasbih. Bahkan hal itu berlanjut hingga masa masuknya islam dan masa kenabian, kemudian pada masa Khalifah. Para sahabat Nabi tidak ada yang menggunakan istilah tasbih sebagai alat untuk beribadah (berdzikir). Bahkan di beberapa kesempatan, banyak para sahabat yang mengingkari atas digunakannya alat untuk menghitung dzikir. Mereka beranggapan bahwa kegiatan tersebut termasuk bid’ah dan tidak diperbolehkan.

  • Aisyah, tatkala melihat seorang wanita dari Bani Kulaib yang tengah menghitung dzikirnya dengan bijian. Aisyah berkata,”Mana jarimu?”
  • Abdullah bin Mas’ud sangat membenci hitungan (dengan tasbih) dan berkata,”Apakah mereka menyebut-nyebut kebaikannya di hadapan Allah?”
  • Ash Shalat bin Bahram, berkata bahwa: Ibnu Mas’ud melihat seorang wanita yang bertasbih dengan menggunakan subhah, kemudian beliau memotong tasbihnya dan membuangnya. Beliau juga melewati seorang laki-laki yang bertasbih menggunakan kerikil, kemudian memukulnya dengan kakinya dan berkata,”Kamu telah mendahului (Rasulullah salallahu ‘alaihi wa sallam) dengan melakukan bid’ah yang dzalim, dan kamu lebih tahu dari para sahabatnya.”
  • Sayyar Abi Al Hakam, bahwasanya Abdullah bin Mas’ud menceritakan tentang orang-orang Kufah yang bertasbih dengan kerikil di dalam masjid. Kemudian beliau mendatanginya dan menaruh beberapa kerikil di kantong mereka, dan mereka dikeluarkan dari masjid. Beliau berkata,”Kamu telah melakukan bid’ah yang zalim dan telah melebihi ilmunya para sahabat Nabi”
  • Amru bin Yahya, dia menceritakan pengingkaran Abdullah bin Mas’ud terhadap halaqah di masjid Kuffah yang orang-orangnya bertasbih, bertahmid dan bertahlil dengan kerikil

Orang orang yang telah terbiasa menggunakan tasbih untuk berdzikir beralasan agar mereka tidak melupakan hitungan dzikir mereka. Padahal berdasarkan QS. Al Ahzab ayat 35, disebutkan agar menyebut nama Allah dengan hitungan yang banyak, tidak terikak jumlah.

Lantas untuk ta’abbudiyah (ketentuan) Rasulullah perihal jumlah dzikir yang genap 100 merupakan contoh sunnah yang harus dijadikan panutan. Atas perkara ibadah, ibnu Mas’ud memberikan nasehat, sedikit dalam sunnah jauh lebih baik daripada banyak tapi bid’ah.

Bagaimana hukum biji tasbih? Apakah diperbolehkan berdzikir dengan menggunakan biji tasbih? Rincian yang baik mengenai hukum biji tasbih, dibolehkan jika ada kebutuhan untuk menggunakannya. Sedangkan jika tujuan menggunakannya untuk memamerkan amalan, maka hukumnya haram karena itu termasuk riya’ atau memamerkan amalan.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah rahimahullah mengatakan,

“Menghitung tasbih dengan jari itu dianjurkan (disunnahkan). Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada para wanita, “Bertasbihlah dan hitunglah dengan jari karena sesungguhnya jari jemari itu akan ditanyai dan diminta untuk berbicara.

Sedangkan berdzikir dengan menggunakan biji atau kerikil atau pun semisalnya maka itu adalah perbuatan yang baik. Di antara para sahabat ada yang melakukan seperti itu. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga melihat salah seorang isterinya bertasbih dengan menggunakan kerikil dan beliau membiarkannya. Terdapat pula riwayat yang menunjukkan bahwa Abu Hurairah bertasbih dengan menggunakan kerikil.

Adapun bertasbih dengan menggunakan manik-manik yang dirangkai menjadi satu (sebagaimana biji tasbih yang kita kenal saat ini) maka ulama berselisih pendapat. Ada yang menilai hal tersebut hukumnya makruh, ada pula yang tidak setuju dengan hukum makruh untuk perbuatan tersebut.

Kesimpulannya, jika orang yang melakukannya itu memiliki niat yang baik (baca: ikhlas) maka berzikir dengan menggunakan biji tasbih adalah perbuatan yang baik dan tidak makruh.

Adapun memiliki biji tasbih tanpa ada kebutuhan untuk itu atau mempertontonkan biji tasbih kepada banyak orang semisal dengan mengalungkannya di leher atau menjadikannya sebagai gelang di tangan atau semisalnya maka status pelakunya itu ada dua kemungkinan. Kemungkinan pertama, dia riya’ dengan perbuatannya tersebut. Kemungkinan kedua, dimungkinkan dia akan terjerumus ke dalam perbuatan riya’ dan perbuatan tersebut adalah perbuatan menyerupai orang-orang yang riya’ tanpa ada kebutuhan.

Jika benar kemungkinan pertama maka hukum perbuatan tersebut adalah haram.

Jika yang tepat adalah kemungkinan yang kedua maka hukum yang paling ringan untuk hal tersebut adalah makruh.

Sesungguhnya memamerkan ibadah mahdhah semisal shalat, puasa, dzikir dan membaca Al-Qur’an kepada manusia adalah termasuk dosa yang sangat besar”. (Majmu’ah Al-Fatawa, 22:506)

Namun yang dianjurkan adalah berdzikir dengan menggunakan jari-jemari karena setiap jari ini akan ditanyai pada hari kiamat.

Dari Yusairah seorang wanita Muhajirah, dia berkata:

قَالَ لَنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْكُنَّ بِالتَّسْبِيحِ وَالتَّهْلِيلِ وَالتَّقْدِيسِ وَاعْقِدْنَ بِالْأَنَامِلِ فَإِنَّهُنَّ مَسْئُولَاتٌ مُسْتَنْطَقَاتٌ وَلَا تَغْفُلْنَ فَتَنْسَيْنَ الرَّحْمَة

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada kami: “Hendaknya kalian bertasbih (ucapkan subhanallah), bertahlil (ucapkan laa ilaha illallah), dan bertaqdis (mensucikan Allah), dan himpunkanlah (hitunglah) dengan ujung jari jemari kalian karena itu semua akan ditanya dan diajak  bicara, janganlah kalian lalai yang membuat kalian lupa dengan rahmat Allah.” (HR. At Tirmidzi no. 3583 dan Abu Daud no. 1501 dari hadits Hani bin ‘Utsman dan dishahihkan Adz Dzahabi. Sanad hadits ini dikatakan hasan oleh Al Hafizh Abu Thohir)

Wallahu; a’lam

referensi:

rumaysho.com

dalamislam.com

Leave a Comment