Hukum Shalat di Atas Sajadah

Sajadah merupakan perlengkapan yang biasa dipakai ketika tengah melaksanakan shalat. Biasanya sajadah berupa sehelai kain (tebal) yang dipakai sebagai alas untuk bersujud. Namun, tak semua orang yang shalat menggunakan sajadah, ada pula yang melakukan shalat tanpa alas sehelai kain pun. Lantas, bagaimana hukum shalat di atas Sajadah ini? Sebagian mengatakan hal itu termasuk bid’ah, apa benar?

Berikut pemaparannya. Simak yuk!

Dalil Bolehnya Shalat di Atas Sajadah

Dalam kitab Al Muntaqo karya Abul Barokat ‘Abdus Salam Ibnu Taimiyah Al Harroni -kakek Ibnu Taimiyah- disebutkan dalam kitab Shalat, yaitu Bab “Shalat di Atas Bulu, Karpet dan Alas Lainnya.”

Berikut beberapa dalil yang dibawakan oleh Abul Barokat.

Dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata,

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى عَلَى بِسَاطٍ

“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas permadani.” (HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari Al Mughiroh bin Syu’bah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْحَصِيرِ عَلَى الْحَصِيرِ وَالْفَرْوَةِ الْمَدْبُوغَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa shalat di atas tikar dan kulit yang disamak.” (HR. Ahmad dan Abu Daud).

Dari Abu Sa’id, ia berkata bahwa beliau pernah menemui Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau katakan,

دَخَلَ عَلَى رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : فَرَأَيْتُهُ يُصَلِّي عَلَى حَصِيرٍ يَسْجُدُ عَلَيْهِ

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam shalat di atas tikar, beliau sujud di atasnya.” (HR. Muslim).

Dari Maimunah, ia berkata,

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُصَلِّي عَلَى الْخُمْرَةِ

“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat di atas tikar kecil.” (Diriwayatkan oleh Al Jama’ah kecuali Tirmidzi. Namun Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas).

Dari Abu Ad Darda’, ia berkata,

مَا أُبَالِي لَوْ صَلَّيْت عَلَى خَمْسِ طَنَافِسَ .

“Aku tidak memperhatikan seandainya aku shalat di atas permadani yang berlapis lima.” (Diriwayatkan oleh Bukhari dalam Tarikhnya).

Asy Syaukani rahimahullah ketika menjelaskan hadits-hadits di atas berkata, “Hadits yang telah disebutkan menunjukkan bahwa tidak mengapa shalat di atas sajadah baik sajadah tersebut ada yang sobek, terbuat dari daun kurma atau selain itu, begitu pula sajadah tersebut berukuran kecil (seperti khumroh) atau berukuran besar (seperti hashir dan bisath) karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat menggunakan alas semacam itu.” (Nailul Author, terbitan Dar Ibnul Qayyim, cetakan kedua, 1429 H, 2: 511)

Asy Syaukani juga mengatakan, “Jumhur atau mayoritas ulama berpendapat tidak mengapa shalat dengan menggunakan alas tikar. Kata Tirmidzi, demikian pendapat sebagian ulama.”

Berdasarkan hadits-hadits di atas dapat diketahui bahwa sajadah atau semacamnya sudah dikenal di masa Rasulullah SAW. Berdasarkan hadits di atas juga dapat disimpulkan bahwa penggunaan sajadah itu diperbolehkan, sebab Nabi sendiri pernah menggunakannya.

Namun, penggunaan sajadah ketika shalat itu sama sekali tidak menjadikan penggunaannya wajib. Jika, ada anggapan shalat harus menggunakan sajadah, ini dikhawatirkan dapat menjadi suatu bid’ah.

Syaikh ‘Utsman Al Khomis menerangkan, “Yang dimaksud bid’ah adalah jika berkeyakinan bahwa shalat mesti di sajadah dan ia mengharuskan seperti itu. Ini jelas bid’ah. Namun yang tepat, sujud di atas sajadah bukanlah bid’ah. Dan para ulama pun tidak menggolongkannya sebagai bid’ah. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkadang shalat di atas khumroh (tikar kecil), terkadang pula shalat di atas tanah, juga kadang shalat di atas hashir (tikar dengan ukuran lebih besar). Beliau shalat di tempat mana saja yang mudah bagi beliau. Beliau tidak bersusah-susah diri dalam melaksanakan shalat. Kalau ada tikar di depan beliau, beliau tidak memindahkannya lalu shalat di atas tanah. Begitu pula ketika ada permadani lainnya, beliau tidak memindahkannya dan shalat di atas tanah. Apa yang beliau peroleh, beliau shalat di situ.”

Dalam kitab syafinatun naja dijelaskan bahwa syarat sholat ada 8, yaitu:

1. Suci dari dua hadats (hadats kecil dan hadats besar, penj)

2. Suci dari najis pada pakaian, badan dan tempat (shalat)

3. Menutup aurat

4. Menghadap kiblat

5. Masuk waktu shalat

6. Mengetahui fardhu-fardhunya shalat

7.Tidak boleh menyakini satu fardhu dari fardhu-fardhunya shalat sebagai sunnah

8.Menjauhi batalnya (yang membatalkan) shalat.

Jadi, intinya penggunaan sajadah sebagai alas dalam shalat itu bergantung pada kondisi tempat. Jika tempat yang digunakan untuk shalat itu bersih dan layak, maka boleh saja shalat tanpa sajadah.

Pada umumnya, beragam kitab fiqih menjelaskan ‘tempat’ shalatnya harus suci, namun biasanya tempat shalat yang tak diurus dengan baik akan cenderung kotor, maka dibuatlah alas shalat ( sajadah). Nah untuk menghindari tempat shalat yang kotor, bisa menggunakan sajadah yang bisa dibeli di bursasajadah.com atau melalui customer service di 081214743669

Intinya bukan soal harus dialasi sajadah yang mesti dilengkapi, namun tidak najisnya tempat shalatlah yang harus dipenuhi. Shalatnya sebetulnya sah tanpa sajadah, selama terpenuhi semua syarat, rukun dan tidak melakukan perkara yang membatalkan shalat. Yang penting tempat bersih dan suci tidak ada masalah dan sah shalatnya.

source: 

islampos.com

rumaysho.com

Leave a Comment